MASJID AGUNG ASSYUHADA
Masjid Agung Assyuhada’ di bangun pada masa pemerintahan Ronggo
Sukowati, yang awal mulanya di sebut dengan “Mesjid Rato”. Mengenai
bentuk dari Masjid Rato kemungkinan serupa dengan Langgar Gajam, bahkan
bentuk Masjid Sunan Giri awal mulanya menyerupai Langgar Gajam.
Setelah datangnya kekuasaan Mataram di Pamekasan barulah ada
kejelasan bahwa Mesjid Rato dibongkar total bersamaan dengan Keraton
Mandilaras. Agar semua yang berbau Ronggo Sukowati hilang dari ingatan
rakyat Pamekasan, di atas tanah tempat Mesjid Rato dibangun
Mesjid sesuai selera Sultan Agung yaitu bentuk yang disetujui
Walisongo berupa bangunan segi empat beratap Tajug Tumpang Tiga dengan
puncak bermahkota yang disebut Mustuko yang terbuat dari tembaga, di
depannya terdapat serambi dan di dalam merupakan ruang haram dengan
empat soko guru.
Pada abad ke 20 Mesjid ini mengalami beberapa kali perubahan,
kemudian di zaman Pemerintahan Belanda atas saran Psykolog berbangsa
Belanda bernama Van Der Plaas untuk mengambil hati penduduk Pamekasan
Mesjid harus di perbesar bergaya skala kota. Saat itu bertepatan dengan
pemerintahan Bupati Raden Ario Abd. Aziz (1939) Masjid Jami’ dibongkar
total dan dibangun kembali dengan ukuran 50 x 50 meter berpilar 16,
tanpa serambi namun masih beratap tajug tumpang tiga. Di depan kiri
kanan berdiri menara kembar. Beduk yang semula ada di serambi setelah
direnovasi ditempatkan di atas menara.
Kembali Mesjid Jamik direnovasi yaitu perluasan ke depan yaitu
tambahan serambi yang didesain menyerupai bagian mesjid Blimbing di
Kabupaten Malang. Pada renovasi tesebut Mesjid Jamik Kota Pamekasan
menjadi Mesjid Asy-Syuhada (nama ini mengenang para Suhada saat serangan
fajar di depan dan didalam Mesjid Jamik 16 Agustus 1947 oleh Pasukan RI
di Pamekasan untuk mengusir Belanda). Nama Mesjid Asy-Syuhada menjadi
Mesjid Agung Asy-Syuhada pada tahun 1985 setelah mengalami pelebaran
samping kanan dan kiri. Dan pada tahun 1995 untuk terakhir rehab total
seperti pada saat rehab tahun 1938-1939, mesjid dibangun persegi empat
dengan ukuran 60 x 60 meter, atap bukan tajug tetapi diganti kubah khas
Timur Tengah berlantai tiga, lantai pertama tempat pertemuan sanitasi,
gudang dan kantor. Lantai dua merupakan ruang inti. Tiang utama kembali
kepada mesjid Jamik Mataram, bersoko guru empat yang tembus kea tap di
lantai tiga dan lantai tiga juga ditempati jemaah dimana
pandanganterbuka ke arah mihrab. Mimbar terletak disisi mihrab yang
merupakan sisa tahun 1939.
Di samping kiri dan kanan ruang haram termasuk juga di depan terdapat
serambi sehingga dengan tiang soko guru yang empat nampak jelas
tradisionalnya, namun dari fisik menara yang di desain peluru terlihat
anggun dan pandangan keseluruhan dari bentuk mesjid sesuatu bernilai
lebih bagi kecantikan Kota Pamekasan Sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar